![]() |
Ardan Pangkatana, adalah seorang anak muda asli Sentani selaku pegiat wisata dan budaya di Kabupaten Jayapura Provinsi Papua, Senin, 31/3/2025 (foto;docAP) |
SENTANI | Papuareels.id – Maraknya kedatangan konten kreator dari luar Papua yang mengambil gambar dan informasi tanpa memperhatikan nilai budaya serta keaslian wilayah setempat menjadi perhatian serius bagi masyarakat Papua. Banyak dari konten yang diproduksi mengalami distorsi informasi sehingga berpotensi menyesatkan penonton.
Ardan Pangkatana, seorang anak asli Sentani dari Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, yang mendedikasikan dirinya sebagai pegiat wisata dan budaya di Papua, Kabupaten Jayapura, menyerukan pentingnya menjaga nilai-nilai budaya Papua dalam setiap konten digital. Ia menekankan bahwa keaslian dan kebenaran informasi harus menjadi prioritas bagi para kreator yang datang ke Papua, baik dari dalam maupun luar daerah.
“Setiap kata atau pesan dalam konten memiliki dampak besar bagi masyarakat luas maupun penikmat konten. Oleh karena itu, nilai-nilai budaya dan keaslian harus tetap terjaga,” ujar Ardan dalam pernyataannya.
Ia juga menyoroti fenomena yang telah berlangsung selama beberapa tahun, di mana banyak konten kreator dari luar Papua datang tanpa memperhatikan norma setempat. Hal ini, menurutnya, sering kali dilakukan demi kepentingan pribadi dan ketenaran tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi masyarakat Papua.
“Kita tidak bisa membiarkan Papua hanya menjadi objek eksploitasi demi konten. Masyarakat Papua memiliki hak untuk dilihat dan didengar dengan cara yang benar,” tambahnya.
Ardan pun mengajak pemerintah serta komunitas kreator di Papua untuk lebih aktif mengawasi dan membimbing para konten kreator yang datang ke wilayah tersebut. Menurutnya, kolaborasi antara komunitas lokal dan pemerintah dapat membantu memastikan bahwa setiap konten yang diproduksi tetap sesuai dengan nilai-nilai budaya dan kenyataan di lapangan.
Seruan ini menjadi pengingat bagi para youtuber dan konten kreator dari luar Papua agar lebih menghormati budaya dan masyarakat setempat saat membuat konten. Diharapkan, dengan adanya kesadaran ini, informasi yang disebarkan ke publik dapat lebih akurat dan tidak merugikan masyarakat asli Papua. (DanTop)